Dr. Marwoto Sp.A
Jurnalis : Yohanes Eko PW, AMK
Dokter spesialis anak yang terkenal keras dan disiplin ini tanpa terasa telah kurang lebih 15 tahun menjalani masa pensiun sebagai karyawan RS Bethesda Yogyakarta. Semangat kasih dan pelayanannya selama inipun tidak hanya bagi pasien-pasien ciliknya, namun begitu banyak buah pemikiran yang telah beliau tuangkan dalam kebijakan-kebijakannya selama menjadi Pemimpin Unit Kerja di rumah sakit yang terkenal dengan motto : “Tolong Dulu, Urusan Belakang” ini. Tentu banyak pengalaman yang bisa kita petik bersama.
Berikut petikan wawancara singkat penuh canda yang dilakukan jurnalis Buletin SP BMKK UKRS Bethesda, Yohanes Eko P.W, AMK di kediaman beliau, pada suatu pagi menjelang aktivitas rutinnya melayani anak sakit di RS Bethesda Lempuyangwangi.
Jurnalis (J) : “Selamat pagi, dokter. Sehat dok ?”
Dr Marwoto (Dr) : “Pagi…pagi…monggo ! Puji Tuhan, sehat.”
J : “Maaf mengganggu, dok. Mau ngobrol-ngobrol dikit nih, dok. Tentu banyak pengalaman dokter yang boleh kami petik sebagai penerus agar tetap bersemangat melayani di RS
Dr : “Ya, silakan. Tapi saya bukan tokoh, lho. Hanya berbagi pengalaman saja.”
J : “Kita mulai dari ini saja ya, dok. Kapan atau bagaimana awalnya sehingga Dr. Marwoto punya keinginan jadi dokter ?”
Dr : “Saya tuh kepengin jadi dokter bukan kepengin sebenarnya, tapi cuma ikut teman-teman. Selepas dari SMA Bopkri 1, teman-teman daftar kedokteran saya ikut daftar juga. Setelah saya memilih fakultas kedokteran sebenarnya ayah saya keberatan karena biaya dan beliau sudah tua. Namun kemudian saya dapat beasiswa dari Departemen P & K mulai di kelas II.
Dulu namanya kandidat. Kalau kelas I namanya provadus. Itulah yang saya gunakan sebagai kelangsungan sekolah saya sampai selesai.”
J : “Lalu setelah selesai langsung kerja di
Dr : “Iya, langsung di
J : “Berarti dari asisten itu kemudian dokter mengambil spesialis anak ?”
Dr : “Iya, tahun 1973 saya ambil spesialisasi anak di UGM. Selesai tahun 1976.”
J : “Nah, selama di
Dr : “Waktu itu di
J : “Berarti direktur utamanya berganti-ganti, tentu banyak kesan-kesan terutama tentang kebijakannya, dok ?”
Dr : “Ya, setiap pimpinan berbeda-beda. Tapi saya bisa mengikuti semua koq dan saya gampang menyesuaikan, juga tidak pernah ada masalah. Saya selalu sebagai wakil direktur bidang perawatan atau pelayanan. Saya lebih senang disitu. Pernah juga diminta untuk jadi direktur, tapi saya gak mau. Terlalu berat. Lebih senang di pelayanan. Pengalaman yang menarik waktu Dr. Guno jadi pimpinan, dia itu banyak idenya.”
J : “Seperti apa ide-idenya, dok ?”
Dr : “Ya, banyak. Seperti, waktu itu
J : “Oke, dok. Sekarang hal yang berhubungan dengan karyawan. Menurut pengamatan dokter ?”
Dr : “Menurut saya koq sama saja ya. Spirit kerjanya juga sama saja. Hanya dulu, waktu zaman Belanda
Sekarang
J : “Lalu hal yang berhubungan dengan kesejahteraan karyawan, dok ?”
Dr : “Ya, saya kira baik-baik saja. Lha monggo, itu diurus oleh BMKK. Saya juga pernah jadi Ketua BMKK. Tapi hanya beberapa bulan saya lepas karena kesibukan sebagai pimpinan. Selain itu
J : “Tentang kinerja BMKK, dok ?”
Dr : “Wah…saya sudah pensiun. Sudah gak ngikuti lagi. Tapi saya kira baguslah. Silakan dikembangkan. Adanya buletin ini juga bagus. Bisa jadi media komunikasi. Diteruskan saja ! Pokoknya semua karyawan harus saling mendukung !”
J : “Sebagai pensiunan, menurut dokter kesejahteraannya cukup, dok ?”
Dr : “Saya sudah tidak dapat pensiunan lagi. Saya pensiun umur 60 tahun, dapat tunjangan pensiun hanya sampai umur 70 tahun. Jadi sudah 5 tahunan ini kalau saya gak kerja ya gak punya uang.
Dr Marwoto -- Sambungan hal 9 …
Tapi syukurlah, RS Lempuyangwangi masih menyediakan tempat untuk saya boleh bekerja. Juga ada peninggalan orang tua di desa berupa tanah 4 hektar yang saya kelola. Lha, beras yang saya makan dari
J : “Kalau kesejahteraan pensiunan diluar profesi kedokteran, cukup gak dok ?”
Dr : “Ya, saya gak tahu. Tapi saya kira cukuplah. Mudah-mudahan cukup ya, ha…ha…ha…”
J : “Baik dok, sebentar lagi
Dr : “Ha…ha…ha…Nggak…nggak…! silakan dirembug itu.
J : “Baik dokter, terima kasih atas kesempatan bincang-bincangnya. Semoga dokter tetap sehat dan sejahtera bersama keluarga. Tetap bisa melayani sesama.”
Dr : “Terima kasih…terima kasih…! Sukses juga untuk buletinnya. Salam untuk teman-teman semua.”
Selanjutnya dokter yang menikah pertama kali dengan wanita bernama Rukti Suwarni ini bersiap-siap untuk menjalankan aktivitas rutinnya di poliklinik RS Lempuyangwangi, RB Pura Raharja serta tetap menyediakan waktu dan tempat bagi pasien-pasiennya di rumah. Beliau yang telah dikaruniai tiga orang putra-putri, Eko Artanto, Dwi Susilorini dan Tripriatmojo ini tampak tetap bersemangat diusianya yang menginjak 75 tahun, didampingi Ny. Retno Widianingtyas (pernikahannya yang kedua, dua tahun setelah pada 2002 Ny Rukti Suwarni berpulang ke rumah Bapa.).
Selamat melanjutkan tugas pelayananmu, dokter ! Tuhan Memberkati.

Komentar :
Posting Komentar