counter

Musik

Sabtu, 13 Maret 2010

APA DAN SIAPA

Dr. Marwoto Sp.A

Jurnalis : Yohanes Eko PW, AMK

Dokter spesialis anak yang terkenal keras dan disiplin ini tanpa terasa telah kurang lebih 15 tahun menjalani masa pensiun sebagai karyawan RS Bethesda Yogyakarta. Semangat kasih dan pelayanannya selama inipun tidak hanya bagi pasien-pasien ciliknya, namun begitu banyak buah pemikiran yang telah beliau tuangkan dalam kebijakan-kebijakannya selama menjadi Pemimpin Unit Kerja di rumah sakit yang terkenal dengan motto : “Tolong Dulu, Urusan Belakang” ini. Tentu banyak pengalaman yang bisa kita petik bersama.

Berikut petikan wawancara singkat penuh canda yang dilakukan jurnalis Buletin SP BMKK UKRS Bethesda, Yohanes Eko P.W, AMK di kediaman beliau, pada suatu pagi menjelang aktivitas rutinnya melayani anak sakit di RS Bethesda Lempuyangwangi.

Jurnalis (J) : “Selamat pagi, dokter. Sehat dok ?”

Dr Marwoto (Dr) : “Pagi…pagi…monggo ! Puji Tuhan, sehat.”

J : “Maaf mengganggu, dok. Mau ngobrol-ngobrol dikit nih, dok. Tentu banyak pengalaman dokter yang boleh kami petik sebagai penerus agar tetap bersemangat melayani di RS Bethesda.”

Dr : “Ya, silakan. Tapi saya bukan tokoh, lho. Hanya berbagi pengalaman saja.”

J : “Kita mulai dari ini saja ya, dok. Kapan atau bagaimana awalnya sehingga Dr. Marwoto punya keinginan jadi dokter ?”

Dr : “Saya tuh kepengin jadi dokter bukan kepengin sebenarnya, tapi cuma ikut teman-teman. Selepas dari SMA Bopkri 1, teman-teman daftar kedokteran saya ikut daftar juga. Setelah saya memilih fakultas kedokteran sebenarnya ayah saya keberatan karena biaya dan beliau sudah tua. Namun kemudian saya dapat beasiswa dari Departemen P & K mulai di kelas II.

Dulu namanya kandidat. Kalau kelas I namanya provadus. Itulah yang saya gunakan sebagai kelangsungan sekolah saya sampai selesai.”

J : “Lalu setelah selesai langsung kerja di Bethesda, dok ?”

Dr : “Iya, langsung di Bethesda, tapi sebelumnya saya daftar di Ikes Jawa Tengah dan mau ditempatkan di Jepara. Tapi sebagai part timer saya sudah di Bethesda karena istri saya sudah di Bethesda bagian asisten apoteker. Akhirnya setelah di Bethesda beberapa bulan, direkturnya, waktu itu Dr. Wardoyo koq tergerak. Sudah kamu kerja disini saja. Dia ngurus langsung ke Ikes Jawa Tengah untuk penempatan saya itu. Saya juga ikut. Setelah beres saya ngurus ke Jakarta dan disana saya bertemu langsung Deputi Menterinya, Dr. Pieter Sumbu, anak seorang pendeta di Sulawesi, kebetulan kenalan istri saya. Kemudian saya kerja sekitar 2 – 3 tahun sebagai asisten Dr. Y.S Blieck Sp.A. Orang Belanda, yang galaknya bukan main, keras & disiplin. Nah, disiplinnya itu yang saya warisi. Ha…ha…ha…! Dulu sering bertengkar saya itu. Kalau dia sudah bilang bangsa Indonesia kere-kere, saya marah, lalu saya jawab lha wong dokter juga makan berasnya bangsa Indonesia koq. Ha…ha…ha….”

J : “Berarti dari asisten itu kemudian dokter mengambil spesialis anak ?”

Dr : “Iya, tahun 1973 saya ambil spesialisasi anak di UGM. Selesai tahun 1976.”

J : “Nah, selama di Bethesda pengalaman yang paling menarik, dok ?”

Dr : “Waktu itu di Bethesda sedang dibentuk pimpinan. Istilahnya Direkturium. Direktur Umumnya, Dr. Wardoyo, Direktur Medis, Dr. Laksmi, Saya Direktur Perawatan, Direktur Ekonomi dan Umum, Dr. Sugianto. Selanjutnya setiap pergantian pimpinan saya ikut terus sampai menjelang pensiun. Ha…ha…ha…”

J : “Berarti direktur utamanya berganti-ganti, tentu banyak kesan-kesan terutama tentang kebijakannya, dok ?”

Dr : “Ya, setiap pimpinan berbeda-beda. Tapi saya bisa mengikuti semua koq dan saya gampang menyesuaikan, juga tidak pernah ada masalah. Saya selalu sebagai wakil direktur bidang perawatan atau pelayanan. Saya lebih senang disitu. Pernah juga diminta untuk jadi direktur, tapi saya gak mau. Terlalu berat. Lebih senang di pelayanan. Pengalaman yang menarik waktu Dr. Guno jadi pimpinan, dia itu banyak idenya.”

J : “Seperti apa ide-idenya, dok ?”

Dr : “Ya, banyak. Seperti, waktu itu kan RS Bethesda dikenal sebagai rumah sakit Tulung. Gratis Bed itu sampai lebih dari 40 %. Padahal aturan pemerintah hanya 25 %. Nah, disitu kita bersama-sama berbenah diri. Membuat klas-klas untuk cari uang. Gratis Bed, kita ikut aturan pemerintah. Lalu klas I dan utama sebagai subsidi silang. Kalau dulu, waktu masih bernama RS Petronela semuanya dari Belanda. Biaya dari Belanda. Dokter-dokter ahli disuplai dari Belanda. Lalu pelan-pelan kita berjuang untuk itu. Juga ada Kam Klinik Zr. Prince yang sekarang RS Lempuyangwangi. Itu juga cabang Bethesda yang diopeni sebagai bagian dari berbenah diri. Oya, sebenarnya nama Zr. Prince itu mau dilestarikan, namun saya cari keluarganya di Belanda sudah tidak ada. Di Bethesda sendiri waktu itu kan cuma punya klinik Penyakit Dalam dan Bedah, lalu atas usul saya, perumahan dokter-dokter di timur Petronela dibongkar dijadikan poliklinik. Maka ada poli anak, poli saraf, dan lain-lain seperti sekarang ini. waktu itu yang menempati saya, Dr. Marda, Dr. Purnomo, Dr. Guno. Kita berembug dan semua setuju. Saya pergi lebih dulu ketika itu, ha…ha…ha…disangoni doa karo konco-konco.”

J : “Oke, dok. Sekarang hal yang berhubungan dengan karyawan. Menurut pengamatan dokter ?”

Dr : “Menurut saya koq sama saja ya. Spirit kerjanya juga sama saja. Hanya dulu, waktu zaman Belanda kan kebanyakan sendiko dawuh. Kalau sekarang ya sudah tidak relevan.

Sekarang kan lebih berani bersuara, mengungkapkan pendapat, mengatur diri tentang organisasi. Tentu lebih baik. Sehingga bisa saling mendukung dan menunjang demi kemajuan RS Bethesda kedepan. Itu spiritnya harus tetap dijaga seperti tertulis di depan petronela itu lho. Apa itu…hmmm…Ingsun ki Yehuwah…coba dibaca itu ! Semua karyawan harus memelihara spirit itu. Kan dari Kitab Suci itu.”

J : “Lalu hal yang berhubungan dengan kesejahteraan karyawan, dok ?”

Dr : “Ya, saya kira baik-baik saja. Lha monggo, itu diurus oleh BMKK. Saya juga pernah jadi Ketua BMKK. Tapi hanya beberapa bulan saya lepas karena kesibukan sebagai pimpinan. Selain itu kan, waktu rumah saya masih jejer, wah…segala hiruk pikuk urusan rumah sakit dan pasien, saya urus semua itu. Yang keluarganya nangis karena pasien meninggal gak punya biaya, malam-malam butuh bantuan, wah…lelah waktu itu. Banyak urusannya. Nah, sekarang kan sudah terorganisir. Ada BMKK, ada Kokarda. Istri saya ikut membidani terbentuknya Kokarda ketika itu. Silakan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan karyawan.”

J : “Tentang kinerja BMKK, dok ?”

Dr : “Wah…saya sudah pensiun. Sudah gak ngikuti lagi. Tapi saya kira baguslah. Silakan dikembangkan. Adanya buletin ini juga bagus. Bisa jadi media komunikasi. Diteruskan saja ! Pokoknya semua karyawan harus saling mendukung !”

J : “Sebagai pensiunan, menurut dokter kesejahteraannya cukup, dok ?”

Dr : “Saya sudah tidak dapat pensiunan lagi. Saya pensiun umur 60 tahun, dapat tunjangan pensiun hanya sampai umur 70 tahun. Jadi sudah 5 tahunan ini kalau saya gak kerja ya gak punya uang.

Dr Marwoto -- Sambungan hal 9 …

Tapi syukurlah, RS Lempuyangwangi masih menyediakan tempat untuk saya boleh bekerja. Juga ada peninggalan orang tua di desa berupa tanah 4 hektar yang saya kelola. Lha, beras yang saya makan dari sana itu, ha…ha…ha…”

J : “Kalau kesejahteraan pensiunan diluar profesi kedokteran, cukup gak dok ?”

Dr : “Ya, saya gak tahu. Tapi saya kira cukuplah. Mudah-mudahan cukup ya, ha…ha…ha…”

J : “Baik dok, sebentar lagi kan RS Bethesda mau ada suksesi kepemimpinan. Sebagai orang yang cukup lama di jajaran PUK, mungkin ada usul nama seseorang yang dokter anggap cukup visioner untuk memimpin dan mengembangkan RS Bethesda ke depan ?”

Dr : “Ha…ha…ha…Nggak…nggak…! silakan dirembug itu. Kan ada Dewan Pengurus YAKKUM. Saya cuma berpesan dan berharap, semoga RS Bethesda dapat lebih besar, tetap melayani, lebih banyak spesialisasi (dokter ahli, Red.) dan jangan meninggalkan yang tidak mampu. Bethesda kan artinya kolam penyembuhan. Jadi tidak milih-milih pasien. Kemudian cabang-cabang yang di daerah, seperti yang di Prambanan, Wates, Wonosari dan lain-lain perlu untuk dikembangkan juga. Balai-balai pengobatan atau pengobatan alternatif dengan herbal, misalnya juga menarik untuk dikembangkan. Spiritnya bisa dengan “Hospital without Wall”. Lebih mudah pengelolaannya itu. Bergulir terus. Mobile terus.”

J : “Baik dokter, terima kasih atas kesempatan bincang-bincangnya. Semoga dokter tetap sehat dan sejahtera bersama keluarga. Tetap bisa melayani sesama.”

Dr : “Terima kasih…terima kasih…! Sukses juga untuk buletinnya. Salam untuk teman-teman semua.”

Selanjutnya dokter yang menikah pertama kali dengan wanita bernama Rukti Suwarni ini bersiap-siap untuk menjalankan aktivitas rutinnya di poliklinik RS Lempuyangwangi, RB Pura Raharja serta tetap menyediakan waktu dan tempat bagi pasien-pasiennya di rumah. Beliau yang telah dikaruniai tiga orang putra-putri, Eko Artanto, Dwi Susilorini dan Tripriatmojo ini tampak tetap bersemangat diusianya yang menginjak 75 tahun, didampingi Ny. Retno Widianingtyas (pernikahannya yang kedua, dua tahun setelah pada 2002 Ny Rukti Suwarni berpulang ke rumah Bapa.).

Selamat melanjutkan tugas pelayananmu, dokter ! Tuhan Memberkati.

Komentar :

ada 0 komentar ke “APA DAN SIAPA”

Posting Komentar

Tulis Pesan Anda disini


ShoutMix chat widget

Komentar terakhir

Pengikut

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra