counter

Musik

Sabtu, 13 Maret 2010

TOPIK KITA

Suksesi

Suksesi atau sulih atau pergantian kepemimpinan adalah sesuatu keharusan yang tidak akan dapat terelakkan, sebab dimanakah ada suatu pesta yang tanpa dan tiada akhir ?. dan didalam kefanaan kita ini dimanakah ada sesuatu yang tanpa dan tiada batas ?. Namun biar bagaimanapun semuanya itu yang kelihatan sudah pasti, seperti mentari yang akan terbit dan diakhiri dengan pasti untuk tenggelam, toh suksesi tidak selalu berjalan dengan mulus dan tiada hambatan.

Berbeda dengan mahluk lain, manusia tidak akan pernah mau dengan begitu saja akan tunduk dan menyerah dengan keadaan yang tidak sesuai dan “sreg” dengan keinginan dan kemauannya diubah, dan yang akan mengganggu kenyamannannya apalagi mengancam keberadaannya pasti dan selalu dilawannya.

Toh pasti kita lebih menyadari dan maklum bahwa tidak selamanya dan tak segala hal manusia pasti berhasil, dan didalam banyak hal ia akan gagal, Ya walau kegagalan tidak akan serta merta menjadi jera. Ia akan selalu terus dan terus mencoba dan berusaha dan terkadang melawan.

Dan inilah yang membuat manusia akan tercebur dan terlibat dalam sebuah “peperangan abadi” mengapa abadi ?. Sebab pada satu sisi manusia sebenarnya sudah mengetahui bahwa ada lawan yang tidak akan pernah berhasil ditaklukkan. Never, “peperangan abadi” manusia melawan kefanaannya diri sendiri, boleh dikatakan perang melawan “takdir” dan kodrat.

Di hampir penjuru dan pelosok dunia, para ahli bekerja keras dan berupaya untuk menemukan cara yang efektif untuk melawan dan menghentikan proses karena penuaan usia. Dan upaya yang sangat serius lagi untuk melawan “kefanaan” seluruh ilmu dan teknologi kedokteran pada dasarnya berkonsentrasi kesitu, mencegah, melawan, mengobati penyakit dan menghindari kematian.

Dalam kepemimpinan, hal yang sama pasti terjadi, pada satu sisi setiap orang pasti mengetahui dan menyadari bahwa “ untuk segala sesuatu ada masanya dan untuk apapun dibawah langit ada waktunya. Ada waktunya untuk lahir, ada waktunya untuk mati”. Itu berarti bahwa ada sesuatu waktu untuk memulai, ada waktu pula untuk mengakhiri. Atau ada saat untuk naik tahta, ada saat untuk turun tahta. Tapi apakah kejadian itu akan tercermin didalam tindak tanduk suatu sulih kepemimpinan ?.

Akuilah kenyataan bahwa setiap pimpinan pasti punya kecenderungan naluriah untuk mempertahankan dan terus menerus memperpanjang kepemimpinannya; sekali duduk lupa berdiri. Salah satu karakter atau sifat suatu kekuasaan adalah membuat orang ”kecanduan”, sekali merasakan nikmatnya kekuasaan sulit sekali untuk melepaskan diri daripadanya. Oleh karena itu tepat sekali ungkapan bahwa ”kekuasaan harus dibatasi, sebab ia tak mampu membatasi dirinya sendiri, kekuasaan harus dipaksa untuk berhenti, jangan pernah bermimpi dan berilusi bahwa kekuasaan akan bersikap seperti ”anak baik-baik”, artinya patuh dan penurut atas hasil kesadaran diri sendiri.

Keliru besar bila ada pemimpin yang berpikir bahwa sekiranya suksesi tidak dipersiapkan, maka proses itu tak terjadi. Tidak, bagaimanapun kondisi dan situasi dan bila telah genap dan usai waktunya suksesi kepemimpinan pasti terjadi, mencoba menghalang-halangi adalah tindakan sangat konyol .

Untuk itu mutlak dilaksanakan sebuah sistem yang tepat dan efektif, sebuah sistem yang ampuh untuk mengatur sebuah sistem terjadinya suksesi atau sulih kepemimpinan yang tertib dan teratur.

Suksesi tidak berarti segala sesuatu mesti berganti. Ada yang usang dan lapuk serta lekang harus diganti. Ada yang salah mesti dikoreksi, tapi juga ada yang baik yang mesti harus dilestarikan. Sebab itu ada pembaharuan, ada pembetulan, ada peningkatan tapi juga ada kesinambungan. Begitulah semestinya dan seharusnya sejarah mesti bergulir seiring waktu, dan regenerasi serta suksesi kepemimpinan mesti berjalan dan harus berjalan.

-- JM – Sekretaris SP BMKK Unit Kerja Rumah Sakit Bethesda

Komentar :

ada 0 komentar ke “TOPIK KITA”

Posting Komentar

Tulis Pesan Anda disini


ShoutMix chat widget

Komentar terakhir

Pengikut

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra